Tampilkan postingan dengan label Agama Hindu. Tampilkan semua postingan

Pura Hindu di Bali

Bali atau pulau Dewata terkenal karena adanya banyak pura yang merupakan tempat suci agama Hindu. Tempat suci agama Hindu di Bali telah mengalami perkembangan dari jaman dahulu kala. Mula-mula tempat suci Agama Hindu diberi nama hulu (Tempat lebih tinggi/atas), karena kepercayaan masyarakat Bali dahulu bahwa Gunung sebagai tempat yang lebih tinggi dan sebagai stana para dewa dan roh-roh leluhur. Setelah beberapa lama tempat suci Agama Hindu diberi nama pura namun mengalami permasalahan soalnya istana raja juga disebut pura. Tetapi karena raja waktu itu baik hati dan tidak egois makanya diadakan paruman (musyawarah) dan menghasilkan bahwa tempat suci tetap bernama pura tetapi istana raja berubah nama menjadi puri. Sampai saat ini pun tempat suci agama Hindu tetap bernama pura, pura yang memiliki berbagai manfaat bagi umat hindu.
Selasa, 03 April 2012
Posted by Unknown

Pengertian Tuhan Menurut Agama Hindu


Tidaklah mudah untuk memberikan penjelasan tentang Tuhan karena keterbatasan akal manusia, hal itu menunjukkan begitu kecilnya manusia dihadapanNya. Meski begitu manusia tetaplah membaktikan dirinya dihadapanNya sebagaimana tertuang dalam sabda suci Rg veda X.129.6 yaitu:
“Sesungguhnya siapakah yang mengenalaNya. Siapa pula yang dapat mengatakan kapan penciptaan itu. Dana kapan pula diciptakan alam semesta ini, diciptakan dewa-dewa. Siapakah yang mengetahui kapan kejadian itu?”
Sabda suci yang serupa juga terungkap dalam Bhagavadgita X.2 yang artinya:

“Baik para dewa maupun resi agung tidak mengenal asal mulaKu. Sebab dalam segala hal, Aku adalah sumber para dewa dan resi agung”

Theologi dalam terminologi agama Hindu disebut Brahma Vidya yaitu pengetahuan tentang Brahma (Tuhan). Kesadaran para resi dan tokoh agama Hindu akan keterbatasan bahasa definisi Tuhan, menimbulkan adagium atau term yang menyatakan bahwa Tuhan itu Neti, Neti, Neti (bukan ini, bukan ini, bukan ini). Karena dalam Brahmasutra dinyatakan bahwa Tuhan itu, “Tad avyaktam, aha hi” (sesungguhnya Tuhan tidak terkatakan).
Dalam keyakinan agama Hindu, Brahman atau Tuhan hanyalah satu, esa, tidak ada duanya, namun karena kebesaran dan kemuliaanNya, para resi dan orang-orang yang bijak menyebutnya dengan beragam nama.
Kitab Veda juga membicarakan wujud Brahman. Di dalamnya menjelaskan bahwa Brahman sebenarnya adalah energi, cahaya, sinar yang sangat cemerlang dan sulit sekali diketahui wujudnya. Dengan kata lain abstrak, kekal, abadi, atau dalam terminologi Hindu disebut Nirguna atau Nirkara Brahman (Impersonal God) artinya Tuhan tidak berpribadi dan transenden.
Meski Brahman tidak terjangkau pemikiran manusia atau tidak berwujud, namun jikalau Brahman menghendaki dirinya terlihat dan terwujud, hal itu sangat mudah dilakukan. Brahman yang berwujud disebut Saguna atau Sakara Brahman (personal God), Tuhan yang berpribadi atau immanent.
Kedua konsep Tuhan yang impersonal dan personal tersebut di atas dapatlah ditemukan dalam mantra Bhagavadgita IV.6,7,8 dan Bhagavadgita XII,1 dan 3 dengan sebutan sebagai berikut:
  • Paranaamam; Tuhan maha tinggi dan abstrak, kekal abadi tidak berpribadi impersonal, nirkara (tak berwujud), nirguna (tanpa sifat guna) dan Brahman.Tuhan atau Brahman dalam bentuk yang abstrak tersebut di Bali disebut Sang Hyang Suung, Sang Hyang Embang, Sang Hyang Sunya. Karena tidak berbentuk, sulit dibayangkan dan dipikirkan (acintya, Bali). 
  • Vyuhanaama; Tuhan berbaring pada ular di lautan susu. Gambaran Tuhan seperti ini hanya bisa dilihat oleh para dewa. Di Bali penjelasan seperti itu disebut Hana Tan Hana (Ada tidak Ada), artinya Tuhan itu diyakini ada, namun tidak bisa dilihat. 
  • Vibhawanaama; Tuhan dalam bentuk ini disebut Avatara (turun menyebrang). Tuhan. Ia juga biasa disebut Saguna atau Sakara Brahman (personal god). Visualisasinyapun dapat:
    • Tumbuhan/binatang (Unanthropomorphes): tumbuhan Soma, Ikan, Kura-kura, Babi Hutan, Garuda.
    • Setengah manusia-binatang (semi-antropomorphes): Hayagrva yaitu manusia berkepala kuda , Narasimha yaitu manusia berkepala singa.
    • Bentuk manusia dengan segala kelebihannya (anthro-pomorphes) seperti Vamana, Sri Raama, Kresna, Bhagawan Sri Sathya Narayana.
  • Antaraatmanama; Tuhan meresapi segalanya dalam bentuk atma atau zat ketuhanan. Segalanya adalah Brahman (monisme).
  • Archananaama; Tuhan yang terwujudkan dalam bentuk archa atau pertima (replika mini) seperti patung dalam berbagai bahan dan wujud.
Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa ketuhanan dalam agama Hindu adalah perpaduan dari monoteisme transenden, monoteisme imanen, dan monisme. Sekali lagi, ditegaskan dalam agama Hindu apapun wujud dan rupanya Tuhan diyakini hanya satu (esa). Keesaan Tuhan atau Brahma itu dibuktikan dalam berbagai mantra-mantra (ayat-ayat, red) dalam Veda seperti pada Rg. Veda I.64.46 yang berbunyi:
“Mereka menyebutnya dengan Indra, Mitra, Varuna, dan Agni
Beliau yang bersayap keemasan Garutman
Beliau Esa orang bijaksana menyebutNya banyak
Nama: Indra, Yama, Marisvan

Mantra di atas juga sama disebutkan dalam Bhagavadgita XI.39 dan juga dalam Savastava. 3 yang menyebutkan bahwa Tuhan itu disebut dengan berbagai nama, walaupun sesungguhnya Brahman itu Esa.
Brahman menurut Veda juga tidak berjenis kelamin dan berusia. Dengan kata lain jenis kelamin dan usia segalanya ada pada diri Tuhan (Artharvaveda.X.8.27: Rgveda VIII.58.2). Hal tersebut logis menurut Vedanta, karena Tuhan adalah segalanya dalam kaitannya konsep monisme. Dengan begitu Tuhan menurut Veda adalah seorang Anak, seorang Ibu, Bapa, Nenek, Datuk, Kekasih dan sekaligus adalah gabungan itu semua, atau bukan semua hal seperti itu.


[Z87]*Semoga*Berguna*[Z87]
Kamis, 26 Januari 2012
Posted by Unknown

Belajar Wewaran Bali

BELAJAR WEWARAN BALI
Habis ulangan tentang wewaran capek muter-muter otaknya. Itu terjadi karena saya tidak hafal kunci pokoknya yaitu wuku, wewaran dan rumusnya sehingga saya pun terpaksa R dan dari situ sya kepikiran untuk ngeblog sambil menghafal wuku, wewaran dan rumusnya. Untuk dapat pahan dengan materi ini pertama tentunya kita harus mengenal serta hafal dengan wuku yang jumlahnya 30. Berikut daftar 30 wuku tsb :Sinta

  1.  Landep
  2. Ukir
  3. Kulantir
  4. Tolu
  5. Gumbreg
  6. Wariga
  7. Warigadean
  8. Julungwangi
  9. Sungsang
  10. Dungulan
  11. Kuningan
  12. 13.Langkir
  13. 14.  Medangsia
  14. 15.  Pujut
  15. 16.  Pahang
  16. 17.  Krulut
  17. 18.  Mrakih
  18. 19.  Tambir
  19. 20.  Medangkungan
  20. 21.  Matal
  21. 22.  Uye
  22. 23.  Menail
  23. 24.  Prangbakat
  24. 25.  Bala
  25. 26.  Ugu
  26. 27.  Wayang
  27. 28.  Klau
  28. 29.  Dukut
  29. 30.  Watugunung
Cara cepat menghafalnya versi sya adalah dengan menghafal per 10 wuku sehingga kita bisa menghafal 3 kelompok wuku.
Dengan menggunakan 5 jari tangan kita, kita dapat menentukan Buda Kliwon, Tumpek, Buda Wage/Cemeng, Anggara Kasih, Kosong. Dimana bagiang-bagian jari yang mewakili rahinan tsb adalah sbb :
Kita gunakan tangan kiri
Ibu jari = Buda kliwon (Sinta, Gumbreg, Dungulan, Pahang, Matal, Ugu)
Telunjuk = Tumpek (Landep, Wariga, Kuningan, Krulut, Uye, Wayang)
Jari tengah = Buda wage/cemeng (Ukir, Warigadean, Langkir, Mrakih, Menail, Klau)
Jari manis = Anggara kasih (Kulantir, Julungwangi, Medangsia, Tambir, Prangbakat, Dukut)
Jari kelingking = Kosong ( tidak ada rahinan) (Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung)
Nah habis berkutat dengan wuku kita sekarang menuju wewaran. Berikut daftar wewarannya :
1.      Eka Wara = Luang
2.      Dwi Wara = Menge, pepet
3.      Tri Wara = Pasah, beteng, kajeng
4.      Catur Wara = Sri, laba, jaya, menala
5.      Panca Wara = Umanis, paing, pon, wage, kliwon
6.      Sad Wara = Tungleh, ariang, urukung, paniron, was, maulu
7.      Sapta Wara = Radite, soma, anggara, buda, whraspati, sukra, saniscara
8.      Asta Wara = Sri, indra, guru, yama, rudra, brahma, kala, uma
9.      Sanga Wara = Dangu, dangur, gigis, nohan, ogan, erangan, urungan, tulus,dadi
10.  Dasa Wara = Pandita, pati, suka, duka, sri, manu, manusa, raja, dewa raksasa
Nah, selain itu dalam mencari wewaran diperlukan juga urip dari Panca wara serta Sapta wara+nomor urut Sapta wara. Berikut ini daftarnya :
1.      Urip Panca wara :
-Umanis = 5
-Pahing = 9
-Pon = 7
-Wage = 4
Kliwon = 8
2.      Urip Sapta wara :
-Radite = 5
-Soma = 4
-Anggara = 3
- Buda = 7
-Whraspati = 8
-Sukra = 6
-Saniscara = 9

Dari sekian banyak daftar itu kalian sudah hafal bukan...??? Harus hafal..lho!! ^;^, sekarang kita bisa langsung ke rumus à Cekidot>..<
1.      Rumus mencari Eka wara

Urip panca wara + Urip sapta wara = Jika hasilnya genap maka eka waranya kosong jika ganjil maka ekawaranya luang.
2.      Rumus mencari Dwi wara

Urip panca wara + Urip sapta wara = Jika hasilnya genap maka Dwi waranya menge apabila ganjil dwo waranya pepet.
3.      Rumus mencari Tri sampai Sanga Wara

(No urut wuku X 7) + No urut Sapta Wara/n = a,b (hasil)

Ket :
n = Bilangan 3-9 ( 3 digunakan apabila mencari Tri wara, 4 digunakan apabila mencari Catur wara dst. Jadi satu rumus ini digunakan untuk mencari 7 wewaran hanya diganti penyebutnya saja sesuai wewaran yang dicari).
a,b = a merupakan bilangan hasil bagi utama dan b merupakan sisa dari hasil pembagiannya tersebut. Disini yang digunakan untuk menentukan wewarannya ialah b, kita mencari urutan wewaran sesuai nilai b.

Apabila belum paham entar sya kasi contohnya... sbar ya..!!! Mending baca dulu sampai habis.
Perkecualian : Untuk mencari Catur wara dan Asta wara apabila nomor urut wukunya 1-10 digunakan rumus yang sedikit berbeda, yaitu sebagai berikut :
            (No urut wuku X 7) + no urut sapta wara + 2/4 atau 8 = a,b (hasil)
Perbedaan sudah terlihat bukan?? Ya, hanya ditambah 2 saja, itu bedanya.
4.      Rumus mencari Dasa wara

Urip Panca wara + urip Sapta wara + 1/10 = a,b

Sabtu, 10 Desember 2011
Posted by Unknown

Popular Post

- Copyright © Oktalavida's Blog -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -