3 Idiots Film
Pemain : Aamir Khan, R. Madhavan, Sharman Joshi, Kareena Kapoor, Boman Irani, Omi Vaidya
Sutradara : Rajkumar Hirani
Penulis : Abhijat Joshi
Produser : Vidhu Vinod Chopra
Produksi : B.K Films Industries
Sutradara : Rajkumar Hirani
Penulis : Abhijat Joshi
Produser : Vidhu Vinod Chopra
Produksi : B.K Films Industries
3 Idiots adalah film Bollywood pertama yang saya tonton di bioskop, dan saya tidak menyesalinya
Saya boleh dibilang adalah penggemar film-film India. Dulu, di era dimana film Bollywood ‘menjajah’ televisi nasional tiap siang, saban pulang sekolah saya pasti akan duduk anteng di depan televisi dan nonton film India bersama Ibu. Dan kini, ketika Bollywood hanya ada sesekali di malam hari, dimana biasanya cuma diputar di 2 stasiun televisi -Indosiar dan TPI- seringkali saya juga masih menontonnya. Dan kemarin, ketika Jenny Jusuf mengajak saya menonton film ini di Blitz Megaplex, saya pun menganggukkan kepala dan turut serta menyaksikannya
Saya boleh dibilang adalah penggemar film-film India. Dulu, di era dimana film Bollywood ‘menjajah’ televisi nasional tiap siang, saban pulang sekolah saya pasti akan duduk anteng di depan televisi dan nonton film India bersama Ibu. Dan kini, ketika Bollywood hanya ada sesekali di malam hari, dimana biasanya cuma diputar di 2 stasiun televisi -Indosiar dan TPI- seringkali saya juga masih menontonnya. Dan kemarin, ketika Jenny Jusuf mengajak saya menonton film ini di Blitz Megaplex, saya pun menganggukkan kepala dan turut serta menyaksikannya
Seperti kebanyakan film India, 3 Idiots masih memakai konsep serupa : mengaduk-aduk emosi penonton
dengan caranya sendiri, dengan cara yang selalu berhasil membuat
penontonnya serasa seperti naik roller coaster karena perpindahan emosi
yang terjadi dengan cepat. Nangis – tertawa – nangis – tertawa, bahkan
ada kalanya menangis bercampur dengan tertawa
Dari sisi cerita, film ini menawarkan
cerita yang bagus. Sebuah hal menarik mengenai dunia pendidikan,
persahabatan, pilihan hidup, pengejaran cita-cita, pengorbanan,
keyakinan, banyak sekali yang ingin disampaikan film ini namun itu semua
sukses disampaikan ke penontonnya dengan cara yang enak, dengan
penyampaian yang -seperti sudah saya tulis di atas- berhasil membawa
emosi penonton teraduk. Durasi yang panjang -tiga jam- menjadi tidak
terasa karena (sekali lagi) film ini sukses menarik penontonnya untuk
menikmati kisahnya, dari awal hingga akhir
Jajaran pemain menunjukkan akting prima. Aamir Khan parah! Selama
ini -karena pengetahuan saya akan aktor India masih sedikit- saya
mengganggap Shakrukh Khan adalah juaranya, aktor yang bisa berakting
dengan maksimal, namun ternyata ada Khan lain yang juga bisa menampilkan
kemampuan akting serupa, dialah Aamir Khan. Di film ini Aamir bisa
membawakan karakter Rancho sebagai mahasiswa -yang jauh dari umur
sebenarnya- dengan baik, bahasa tubuh, ekspresi dan pembawaannya nampak
natural dan pas. Dua aktor yang memerankan karakter Farhaan dan Raju
juga oke, chemistry mereka bertiga (terutama Rancho dengan Raju) sangat
baik.
Layaknya film India pula, film ini juga
menampilkan panorama yang sangat indah! Banyaknya tempat-tempat menarik
yang dijadikan set membuat mata penonton termanjakan dengan baik. Satu
tempat favorit saya adalah set di Ladakh yang
menampilkan pantai yang sangat indah! Serius, pantainya indah banget!
Selain itu, sudut-sudut pengambilan gambar yang dipilih sutradaranya
juga asik dan bisa lebih menonjolkan keindahan set tersebut. Oh ya, di
film ini juga ada beberapa selipan animasi yang membuat sisi humor film
ini lebih tergali dan membuat penonton bisa menarik bibir untuk tertawa
Film India identik dengan menari-nari di
pohon? Kalian tidak akan menemukannya di film ini. Hanya ada beberapa
lagu di film ini dan itu pun enak-enak semua. Lagu pembuka, lagu ketika
di kamar mandi, ketika seorang mahasiswa bermain gitar, ketika Rancho
dan Pia bernyanyi bersama, hmm sudah, seingat saya cuma itu. Lagu ketika
seorang mahasiswa bermain gitar bagus banget deh, ini cuplikan liriknya
: give me some sunshine, give me some rain. give me another chance, i wanna grow up once again. Liriknya simpel namun inspiratif, dan musiknya pun enak!
Hmmm. Kalau kamu mencari film inspiratif
dengan cerita yang bisa menggugahmu untuk lebih mengerti tentang sebuah
usaha mengejar mimpi, persahabatan, pengorbanan dan sebuah usaha untuk
berubah, kamu bisa menyaksikan film ini. Sangat saya rekomendasikan
Satu quote film ini yang sangat bagus -dan lagi-lagi inspiratif- ALL IS WELL
*diucapkan sambil memegang dada dengan muka penuh keyakinan. Yup. Ini
adalah mantra baru! Anyway, informasi lebih lanjut tentang film ini bisa
dibaca di sini
Kisah Pembuat ARTAV
Arrival Dwi Sentosa (13) dan Taufik Aditya Utama (18),
dua pelajar pembuat antivirus dari Bojongsoang, Bandung
Dari lima anak berbakat di bidang IT yang memaparkan karyanya di Aula Timur ITB, Jumat (11/2/2011) siang, duo bersaudara pembuat Program Antivirus Artav, Arrival Dwi Sentosa (13) dan Taufik Aditya Utama (18), mendapat sambutan paling meriah. Mereka digadang-gadang menjadi penampil pertama. Dan saat Artav (Arrival Taufik Antivirus) berhasil menemukan virus lokal bernama Yuyun yang bercokol di flash disk milik seorang panelis, para hadirin spontan berdiri dan menyambutnya dengan tepuk tangan meriah (standing ovation) untuk mereka berdua.
Kesuksesan Taufik dan Rival tidak hanya dibuktikan lewat tes di hadapan lebih dari seratus penonton, tetapi bisa dilihat dari jumlah pengunduh Artav yang hingga Senin (14/2/2011) sore mencapai 300.000 orang dari 60 negara. Bahkan, Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar pun berjanji akan membantu proses pengurusan hak paten Artav atas nama keduanya.
Dari segi fitur, aplikasi yang bisa diunduh gratis oleh setiap pengguna internet ini memiliki beberapa keunggulan. Seperti fitur Anti Hacker yang bisa melindungi komputer dari upaya penyusupan, Mail Servis untuk mengidentifikasi dan membersihkan virus yang bersarang di kotak surat, dan Internet Security yang masih dalam tahap pengembangan. Juga ada fitur Scan USB untuk memastikan setiap flash disk yang dicolok ke komputer bebas dari virus.
Bagi Arrival dan Taufik, keberhasilan Artav mendeteksi virus tersebut merupakan buah kerja keras keduanya dalam mengembangkan aplikasi dan membangun database virus selama setahun terakhir. Meksipun berasal dari keluarga sederhana, mereka tidak pernah berhenti mengembangkan program antivirus yang semula diberi nama Eagel Protection.
Virus Bandel
Program antivirus Artav sebenarnya dimulai dari kekesalan dua remaja asal Bojongsoang ini yang setiap hari menemukan virus di komputer milik ayahnya. Mereka tidak habis pikir, mengapa virus-virus itu tidak kunjung teratasi setelah semua program antivirus dicoba. "Sampai akhirnya motherboard rusak. Saya kan kesel," Rival mengenang awal dimulainya proyek Artav.
Agar komputer tersebut bisa digunakan kembali, siswa kelas II SMP 48 Bandung ini berjibaku mengumpulkan uang bersama kakaknya, Taufik, untuk untuk membeli motherboard baru. Selain uang jajan, mereka juga menyimpan uang jatah Lebaran yang biasanya digunakan untuk membeli baju baru. "Lebaran tahun 2009 kemarin kami terpaksa tidak beli baju baru. Uangnya dipakai buat beli motherboard," cerita Rival yang diamini Taufik.
Motherboard seharga Rp 450.000 itu akhirnya bisa mereka beli dan komputer sang ayah pun bisa berfungsi kembali.
Akhir Maret 2010, mereka mulai membuat rancangan aplikasi antivirus berbasis Visual Basic dengan fasilitas seadanya. Mereka hanya mengandalkan komputer milik ayahnya yang sehari-hari digunakan untuk memperbaiki ponsel pelanggan.
Pengumpul Virus
Dalam membangun Artav, Arrival dan Taufik melakukannya bersama-sama, termasuk dalam mengumpulkan database virus. Tapi secara umum, otak program ada di kepala Rival yang lebih banyak mengerjakan coding dan programming. Sedangkan Taufik yang saat ini duduk di kelas II SMA 25 Bandung berkonsentrasi di sisi interface dan desain tampilan.
"Pengembangan program sudah sering dilakukan. Mulai dari banyak error sampai penambahan fitur-fitur. Tapi kalau dari segi tampilan, kami melakukan tiga kali perubahan sampai akhirnya menemukan nama Artav," kata Taufik yang mengerjakan hampir semua detail tampilan Artav.
Sementara Rival bertugas membangun program dari nol dengan menggunakan program Visual Basic yang dikuasainya secara otodidak. Selama setahun terakhir, Taufik dan Rival juga mengumpulkan database virus dari satu warnet ke warnet lain. "Virus itu kan biasanya beredar di warnet lewat internet dan flash disk," kata Rival mengemukakan alasan pencarian virus lewat warnet.
Terlebih, lanjutnya, virus yang sulit dikenali dan dibasmi biasanya berasal dari virus lokal yang database-nya belum dimiliki program antivirus luar negeri. Jadi perburuan langsung ke lapangan merupakan cara paling efektif dalam membangun database virus, khususnya virus buatan programmer Indonesia.
Setiap pulang kerja, Rival menyempatkan mendatangi warnet-warnet di sekitar sekolah. Dia menghabiskan waktu dua jam di warnet, lalu melanjutkan penelitiannya di rumah hingga malam hari. Karena sering bolak-balik untuk mengumpulkan virus, beberapa penjaga dan pemilik warnet mengenalinya dan dengan senang hati membantunya.
"Kalau warnet yang sudah dikenal, saya biasanya nitip flash disk (untuk menampung file bervirus). Pulang sekolah flashdisk bervirus itu saya bawa pulang," cerita Rival.
Dalam sehari, anggota forum gim online Nyit Nyit ini mampu mengumpulkan hingga 20 virus. Setelah terkumpul, virus itu dibawa ke rumah untuk diteliti dan diambil algoritma virusnya. Pekerjaan mengumpulkan dan mengecek virus juga dibantu oleh teman-teman kelasnya. Teman-temannya di komunitas Kaskus juga ikut membantu melakukan tes periodik virus-virus yang telah dikumpulkan.
Saat ini, antivirus Artav mampu mengidentifikasi dan mengatasi 1.031 jenis virus dan ratusan ribu varian lainnya. "Enam puluh persen database virus yang ada di Artav merupakan virus lokal," kata Rival kepada Kompas.com, akhir minggu lalu.
Keluarga Sederhana
Melihat keberhasilan putra pertama dan kedua pasangan Herman Suherman dan Yeni Soffia ini dalam mengembangkan program antivirus Artav, sulit menduga keduanya berasal dari keluarga biasa yang tinggal di jalan Bojongsoang 72, Bandung, Jawa Barat. Untuk memenuhi kebutuhan harian, ayah mereka hanya mengandalkan penghasilan dari reparasi HP yang dibuka sejak tahun 2003. Sedangkan ibunya sehari-hari bekerja sebagai Kepala Sekolah TK.
"Sekarang buat makan saja tidak cukup. Apalagi untuk membiayai sekolah mereka," kata Herman.
Meskipun berasal dari keluarga biasa, bakat mengolah komputer mereka dapat dari sang ayah yang lulusan STM Elektronika 2 Bandung (sekarang SMK 4). Sebelum kena PHK berjemaah, Herman pernah bekerja sebagai supervisor dan programmer panaset Panasonic di PT Inti. Maka tak mengherankan kalau kedua putranya sudah akrab dengan komputer sejak kecil.
"Taufik kenal komputer sejak kelas III SD. Kalau Arrival kelas I SD," cerita Herman tentang bakat kedua putranya.
Dari keduanya, antusias Rival dalam mendalami program komputer terlihat lebih besar. Saat duduk di kelas III SD, dia sudah fasih mengoperasikan Windows. “Kelas V, Rival sudah mengotak-atik komputer. Dia juga sudah bisa merakit dan men-setup Windows sendiri,” tutur sang ayah.
Rival mengaku mendalami ilmu komputernya secara mandiri, dibantu bimbingan ayah dan dukungan ibunya. Selain mencari referensi di internet, Rival selalu mencatat judul-judul buku yang dibutuhkan untuk diserahkan ke ibunya. Setiap kali mendapat 'daftar belanjaan', sang ibu yang juga gemar membaca buku membelikan buku komputer dan antivirus untuk putranya di toko buku terdekat. "Kalau ada buku yang saya butuhkan, saya titip ke ibu dan minta dibelikan di toko buku," ujar Rival.
Lewat upaya menuntut ilmu sendiri ini, Rival bisa membuat program sederhana seperti program pemutar musik MP3 dan Pelacak Virus (virus scanner) meskipun belum tamat SD. Saat duduk di bangku SMP, penggemar gim online ini terus mendalami kemampuannya menggunakan Visual Basic untuk membuat program-program dan kode gim.
Artav Premium
Saat ditanya hambatan yang sering dihadapi dalam membuat Artav, Taufik dan Rival dengan santai menyebut faktor mati lampu yang kerap membuatnya harus mengulang pekerjaan yang sudah disusun berjam-jam sebelumnya. Pencarian database virus juga merupakan tantangan tersendiri yang sampai saat ini masih terus disempurnakan.
"Saya juga belum begitu mengerti soal jaringan. Makanya mau banyak belajar soal internet security dengan Pak Onoo (Onno W Purbo)," tutur Rival menyebutkan kesulitan yang dihadapi.
Dengan kelebihan yang telah dibenamkan ke dalam Artav, baik Taufik maupun Rival optimistis program aplikasi ini akan menjadi nomor satu. Saat ini saja, Rival yang bercita-cita memiliki perusahaan sekaliber Microsoft sudah mendapat beasiswa sekolah dan hadiah laptop dari operator seluler XL sebagai salah satu bentuk dukungan. Pihak ITB sudah menyatakan kesediaannya membantu pengembangan program.
Ke depan, mereka berharap dapat merilis versi premium dengan keunggulan lebih dibandingkan aplikasi gratis yang saat ini sudah sampai versi 2.5
Sumber^-^
Dari lima anak berbakat di bidang IT yang memaparkan karyanya di Aula Timur ITB, Jumat (11/2/2011) siang, duo bersaudara pembuat Program Antivirus Artav, Arrival Dwi Sentosa (13) dan Taufik Aditya Utama (18), mendapat sambutan paling meriah. Mereka digadang-gadang menjadi penampil pertama. Dan saat Artav (Arrival Taufik Antivirus) berhasil menemukan virus lokal bernama Yuyun yang bercokol di flash disk milik seorang panelis, para hadirin spontan berdiri dan menyambutnya dengan tepuk tangan meriah (standing ovation) untuk mereka berdua.
Kesuksesan Taufik dan Rival tidak hanya dibuktikan lewat tes di hadapan lebih dari seratus penonton, tetapi bisa dilihat dari jumlah pengunduh Artav yang hingga Senin (14/2/2011) sore mencapai 300.000 orang dari 60 negara. Bahkan, Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar pun berjanji akan membantu proses pengurusan hak paten Artav atas nama keduanya.
Dari segi fitur, aplikasi yang bisa diunduh gratis oleh setiap pengguna internet ini memiliki beberapa keunggulan. Seperti fitur Anti Hacker yang bisa melindungi komputer dari upaya penyusupan, Mail Servis untuk mengidentifikasi dan membersihkan virus yang bersarang di kotak surat, dan Internet Security yang masih dalam tahap pengembangan. Juga ada fitur Scan USB untuk memastikan setiap flash disk yang dicolok ke komputer bebas dari virus.
Bagi Arrival dan Taufik, keberhasilan Artav mendeteksi virus tersebut merupakan buah kerja keras keduanya dalam mengembangkan aplikasi dan membangun database virus selama setahun terakhir. Meksipun berasal dari keluarga sederhana, mereka tidak pernah berhenti mengembangkan program antivirus yang semula diberi nama Eagel Protection.
Virus Bandel
Program antivirus Artav sebenarnya dimulai dari kekesalan dua remaja asal Bojongsoang ini yang setiap hari menemukan virus di komputer milik ayahnya. Mereka tidak habis pikir, mengapa virus-virus itu tidak kunjung teratasi setelah semua program antivirus dicoba. "Sampai akhirnya motherboard rusak. Saya kan kesel," Rival mengenang awal dimulainya proyek Artav.
Agar komputer tersebut bisa digunakan kembali, siswa kelas II SMP 48 Bandung ini berjibaku mengumpulkan uang bersama kakaknya, Taufik, untuk untuk membeli motherboard baru. Selain uang jajan, mereka juga menyimpan uang jatah Lebaran yang biasanya digunakan untuk membeli baju baru. "Lebaran tahun 2009 kemarin kami terpaksa tidak beli baju baru. Uangnya dipakai buat beli motherboard," cerita Rival yang diamini Taufik.
Motherboard seharga Rp 450.000 itu akhirnya bisa mereka beli dan komputer sang ayah pun bisa berfungsi kembali.
Akhir Maret 2010, mereka mulai membuat rancangan aplikasi antivirus berbasis Visual Basic dengan fasilitas seadanya. Mereka hanya mengandalkan komputer milik ayahnya yang sehari-hari digunakan untuk memperbaiki ponsel pelanggan.
Pengumpul Virus
Dalam membangun Artav, Arrival dan Taufik melakukannya bersama-sama, termasuk dalam mengumpulkan database virus. Tapi secara umum, otak program ada di kepala Rival yang lebih banyak mengerjakan coding dan programming. Sedangkan Taufik yang saat ini duduk di kelas II SMA 25 Bandung berkonsentrasi di sisi interface dan desain tampilan.
"Pengembangan program sudah sering dilakukan. Mulai dari banyak error sampai penambahan fitur-fitur. Tapi kalau dari segi tampilan, kami melakukan tiga kali perubahan sampai akhirnya menemukan nama Artav," kata Taufik yang mengerjakan hampir semua detail tampilan Artav.
Sementara Rival bertugas membangun program dari nol dengan menggunakan program Visual Basic yang dikuasainya secara otodidak. Selama setahun terakhir, Taufik dan Rival juga mengumpulkan database virus dari satu warnet ke warnet lain. "Virus itu kan biasanya beredar di warnet lewat internet dan flash disk," kata Rival mengemukakan alasan pencarian virus lewat warnet.
Terlebih, lanjutnya, virus yang sulit dikenali dan dibasmi biasanya berasal dari virus lokal yang database-nya belum dimiliki program antivirus luar negeri. Jadi perburuan langsung ke lapangan merupakan cara paling efektif dalam membangun database virus, khususnya virus buatan programmer Indonesia.
Setiap pulang kerja, Rival menyempatkan mendatangi warnet-warnet di sekitar sekolah. Dia menghabiskan waktu dua jam di warnet, lalu melanjutkan penelitiannya di rumah hingga malam hari. Karena sering bolak-balik untuk mengumpulkan virus, beberapa penjaga dan pemilik warnet mengenalinya dan dengan senang hati membantunya.
"Kalau warnet yang sudah dikenal, saya biasanya nitip flash disk (untuk menampung file bervirus). Pulang sekolah flashdisk bervirus itu saya bawa pulang," cerita Rival.
Dalam sehari, anggota forum gim online Nyit Nyit ini mampu mengumpulkan hingga 20 virus. Setelah terkumpul, virus itu dibawa ke rumah untuk diteliti dan diambil algoritma virusnya. Pekerjaan mengumpulkan dan mengecek virus juga dibantu oleh teman-teman kelasnya. Teman-temannya di komunitas Kaskus juga ikut membantu melakukan tes periodik virus-virus yang telah dikumpulkan.
Saat ini, antivirus Artav mampu mengidentifikasi dan mengatasi 1.031 jenis virus dan ratusan ribu varian lainnya. "Enam puluh persen database virus yang ada di Artav merupakan virus lokal," kata Rival kepada Kompas.com, akhir minggu lalu.
Keluarga Sederhana
Melihat keberhasilan putra pertama dan kedua pasangan Herman Suherman dan Yeni Soffia ini dalam mengembangkan program antivirus Artav, sulit menduga keduanya berasal dari keluarga biasa yang tinggal di jalan Bojongsoang 72, Bandung, Jawa Barat. Untuk memenuhi kebutuhan harian, ayah mereka hanya mengandalkan penghasilan dari reparasi HP yang dibuka sejak tahun 2003. Sedangkan ibunya sehari-hari bekerja sebagai Kepala Sekolah TK.
"Sekarang buat makan saja tidak cukup. Apalagi untuk membiayai sekolah mereka," kata Herman.
Meskipun berasal dari keluarga biasa, bakat mengolah komputer mereka dapat dari sang ayah yang lulusan STM Elektronika 2 Bandung (sekarang SMK 4). Sebelum kena PHK berjemaah, Herman pernah bekerja sebagai supervisor dan programmer panaset Panasonic di PT Inti. Maka tak mengherankan kalau kedua putranya sudah akrab dengan komputer sejak kecil.
"Taufik kenal komputer sejak kelas III SD. Kalau Arrival kelas I SD," cerita Herman tentang bakat kedua putranya.
Dari keduanya, antusias Rival dalam mendalami program komputer terlihat lebih besar. Saat duduk di kelas III SD, dia sudah fasih mengoperasikan Windows. “Kelas V, Rival sudah mengotak-atik komputer. Dia juga sudah bisa merakit dan men-setup Windows sendiri,” tutur sang ayah.
Rival mengaku mendalami ilmu komputernya secara mandiri, dibantu bimbingan ayah dan dukungan ibunya. Selain mencari referensi di internet, Rival selalu mencatat judul-judul buku yang dibutuhkan untuk diserahkan ke ibunya. Setiap kali mendapat 'daftar belanjaan', sang ibu yang juga gemar membaca buku membelikan buku komputer dan antivirus untuk putranya di toko buku terdekat. "Kalau ada buku yang saya butuhkan, saya titip ke ibu dan minta dibelikan di toko buku," ujar Rival.
Lewat upaya menuntut ilmu sendiri ini, Rival bisa membuat program sederhana seperti program pemutar musik MP3 dan Pelacak Virus (virus scanner) meskipun belum tamat SD. Saat duduk di bangku SMP, penggemar gim online ini terus mendalami kemampuannya menggunakan Visual Basic untuk membuat program-program dan kode gim.
Artav Premium
Saat ditanya hambatan yang sering dihadapi dalam membuat Artav, Taufik dan Rival dengan santai menyebut faktor mati lampu yang kerap membuatnya harus mengulang pekerjaan yang sudah disusun berjam-jam sebelumnya. Pencarian database virus juga merupakan tantangan tersendiri yang sampai saat ini masih terus disempurnakan.
"Saya juga belum begitu mengerti soal jaringan. Makanya mau banyak belajar soal internet security dengan Pak Onoo (Onno W Purbo)," tutur Rival menyebutkan kesulitan yang dihadapi.
Dengan kelebihan yang telah dibenamkan ke dalam Artav, baik Taufik maupun Rival optimistis program aplikasi ini akan menjadi nomor satu. Saat ini saja, Rival yang bercita-cita memiliki perusahaan sekaliber Microsoft sudah mendapat beasiswa sekolah dan hadiah laptop dari operator seluler XL sebagai salah satu bentuk dukungan. Pihak ITB sudah menyatakan kesediaannya membantu pengembangan program.
Ke depan, mereka berharap dapat merilis versi premium dengan keunggulan lebih dibandingkan aplikasi gratis yang saat ini sudah sampai versi 2.5
Sumber^-^
Font Aksara Bali
Hari ini saya posting font aksara BALI yang mungkin berguna bagi temen-temen semeton bali yang ingin mengetik tulisan dengan aksara Bali....cekodot. untuk download klik link dibawah ini :
Download-Aksara bali font.rar - (1 MB)
Download-Aksara bali font.rar - (1 MB)
Membuat Program Kalkulator Dengan VB
Nih, saya ada sedikit script visual basic untuk belajar membuat program
sederhana. Ya walaupun cuma program sederhana yang tidak berarti tapi
setidaknya nambah - nambah ilmu kan..Ya kalau mau buat silahkan buat.
Ini hanya untuk menambah ilmu dan sekedar sharing aja. Kita ngga ngeliat
dari sisi kegunaannya tetapi ilmunya aja..^_^
1. Masuk Visual Basic lalu pilih standard exe,ganti nama form
2.Buat 4 Label
Label 1 diberi nama Angka pertama
Label 2 diberi nama Angka kedua
Label 3 diberi nama Hasil
Label 4 (Tidak Wajib) diisi dengan kata Kalkulator
3.Buatlah 4 button command
Button Command 1 diberi nama Tambah
Kodenya :
Dim a,b as integer
A = text1.text
B = text2.text
Text3.text = a+b
Button Command 2 diberi nama Kurang
Kodenya :
Dim a,b as integer
A = text1.text
B = text2.text
Text3.text = a-b
Button Command 3 diberi nama Kali
Kodenya :
Dim a,b as integer
A = text1.text
B = text2.text
Text3.text = a*b
Button Command 4 diberi nama Bagi
Kodenya :
Dim a,b as integer
A = text1.text
B = text2.text
Text3.text = a/b
4.Buatlah 3 Text
Text 1 untuk angka pertama
Text 2 untuk angka kedua
Text 3 untuk hasil penjumlahan text1 dan text 2
Coba dulu program yang telah anda buat tadi dengan menekan tombol F5 atau mengklik toolbar Run - Start. Letaknya - letaknya terserah anda.Bila program tidak berjalan dengan baik berarti masih ada kesalahan yang harus anda perbaiki lagi. Biasanya VB akan langsung memberitahukan kepada anda, mana kode yang error. Kalau mau mengganti tulisan tinggal setting ke captionnya,kalau mau ganti tulisan atau ukurannya tinggal ke font. Kalau mau ganti background tinggal klik picture di setting formnya. Kalo dah selesai tinggal klik file - make project1.exe. Jadi deh...kalkulatornya.
Ini dicopy dari link dibawah ini :
http://timontius-pangestu.blogspot.com/2009/05/membuat-program-sederhana-dengan-visual.html
1. Masuk Visual Basic lalu pilih standard exe,ganti nama form
2.Buat 4 Label
Label 1 diberi nama Angka pertama
Label 2 diberi nama Angka kedua
Label 3 diberi nama Hasil
Label 4 (Tidak Wajib) diisi dengan kata Kalkulator
3.Buatlah 4 button command
Button Command 1 diberi nama Tambah
Kodenya :
Dim a,b as integer
A = text1.text
B = text2.text
Text3.text = a+b
Button Command 2 diberi nama Kurang
Kodenya :
Dim a,b as integer
A = text1.text
B = text2.text
Text3.text = a-b
Button Command 3 diberi nama Kali
Kodenya :
Dim a,b as integer
A = text1.text
B = text2.text
Text3.text = a*b
Button Command 4 diberi nama Bagi
Kodenya :
Dim a,b as integer
A = text1.text
B = text2.text
Text3.text = a/b
4.Buatlah 3 Text
Text 1 untuk angka pertama
Text 2 untuk angka kedua
Text 3 untuk hasil penjumlahan text1 dan text 2
Coba dulu program yang telah anda buat tadi dengan menekan tombol F5 atau mengklik toolbar Run - Start. Letaknya - letaknya terserah anda.Bila program tidak berjalan dengan baik berarti masih ada kesalahan yang harus anda perbaiki lagi. Biasanya VB akan langsung memberitahukan kepada anda, mana kode yang error. Kalau mau mengganti tulisan tinggal setting ke captionnya,kalau mau ganti tulisan atau ukurannya tinggal ke font. Kalau mau ganti background tinggal klik picture di setting formnya. Kalo dah selesai tinggal klik file - make project1.exe. Jadi deh...kalkulatornya.
Ini dicopy dari link dibawah ini :
http://timontius-pangestu.blogspot.com/2009/05/membuat-program-sederhana-dengan-visual.html


