Tampilkan postingan dengan label Agama Hindu. Tampilkan semua postingan
Pura Hindu di Bali
Bali atau pulau Dewata terkenal karena adanya banyak pura yang merupakan tempat suci agama Hindu. Tempat suci agama Hindu di Bali telah mengalami perkembangan dari jaman dahulu kala. Mula-mula tempat suci Agama Hindu diberi nama hulu (Tempat lebih tinggi/atas), karena kepercayaan masyarakat Bali dahulu bahwa Gunung sebagai tempat yang lebih tinggi dan sebagai stana para dewa dan roh-roh leluhur. Setelah beberapa lama tempat suci Agama Hindu diberi nama pura namun mengalami permasalahan soalnya istana raja juga disebut pura. Tetapi karena raja waktu itu baik hati dan tidak egois makanya diadakan paruman (musyawarah) dan menghasilkan bahwa tempat suci tetap bernama pura tetapi istana raja berubah nama menjadi puri. Sampai saat ini pun tempat suci agama Hindu tetap bernama pura, pura yang memiliki berbagai manfaat bagi umat hindu.
Pengertian Tuhan Menurut Agama Hindu
Tidaklah mudah untuk memberikan penjelasan tentang Tuhan karena keterbatasan akal manusia, hal itu menunjukkan begitu kecilnya manusia dihadapanNya. Meski begitu manusia tetaplah membaktikan dirinya dihadapanNya sebagaimana tertuang dalam sabda suci Rg veda X.129.6 yaitu:
“Sesungguhnya siapakah yang mengenalaNya. Siapa pula yang dapat mengatakan kapan penciptaan itu. Dana kapan pula diciptakan alam semesta ini, diciptakan dewa-dewa. Siapakah yang mengetahui kapan kejadian itu?”
Sabda suci yang serupa juga terungkap dalam Bhagavadgita X.2 yang artinya:
“Baik para dewa maupun resi agung tidak mengenal asal mulaKu. Sebab dalam segala hal, Aku adalah sumber para dewa dan resi agung”
Theologi dalam terminologi agama Hindu disebut Brahma Vidya yaitu pengetahuan tentang Brahma (Tuhan). Kesadaran para resi dan tokoh agama Hindu akan keterbatasan bahasa definisi Tuhan, menimbulkan adagium atau term yang menyatakan bahwa Tuhan itu Neti, Neti, Neti (bukan ini, bukan ini, bukan ini). Karena dalam Brahmasutra dinyatakan bahwa Tuhan itu, “Tad avyaktam, aha hi” (sesungguhnya Tuhan tidak terkatakan).
Dalam keyakinan agama Hindu, Brahman atau Tuhan hanyalah satu, esa, tidak ada duanya, namun karena kebesaran dan kemuliaanNya, para resi dan orang-orang yang bijak menyebutnya dengan beragam nama.
Kitab Veda juga membicarakan wujud Brahman. Di dalamnya menjelaskan bahwa Brahman sebenarnya adalah energi, cahaya, sinar yang sangat cemerlang dan sulit sekali diketahui wujudnya. Dengan kata lain abstrak, kekal, abadi, atau dalam terminologi Hindu disebut Nirguna atau Nirkara Brahman (Impersonal God) artinya Tuhan tidak berpribadi dan transenden.
Meski Brahman tidak terjangkau pemikiran manusia atau tidak berwujud, namun jikalau Brahman menghendaki dirinya terlihat dan terwujud, hal itu sangat mudah dilakukan. Brahman yang berwujud disebut Saguna atau Sakara Brahman (personal God), Tuhan yang berpribadi atau immanent.
Kedua konsep Tuhan yang impersonal dan personal tersebut di atas dapatlah ditemukan dalam mantra Bhagavadgita IV.6,7,8 dan Bhagavadgita XII,1 dan 3 dengan sebutan sebagai berikut:
- Paranaamam; Tuhan maha tinggi dan abstrak, kekal abadi tidak berpribadi impersonal, nirkara (tak berwujud), nirguna (tanpa sifat guna) dan Brahman.Tuhan atau Brahman dalam bentuk yang abstrak tersebut di Bali disebut Sang Hyang Suung, Sang Hyang Embang, Sang Hyang Sunya. Karena tidak berbentuk, sulit dibayangkan dan dipikirkan (acintya, Bali).
- Vyuhanaama; Tuhan berbaring pada ular di lautan susu. Gambaran Tuhan seperti ini hanya bisa dilihat oleh para dewa. Di Bali penjelasan seperti itu disebut Hana Tan Hana (Ada tidak Ada), artinya Tuhan itu diyakini ada, namun tidak bisa dilihat.
- Vibhawanaama; Tuhan dalam bentuk ini disebut Avatara (turun menyebrang). Tuhan. Ia juga biasa disebut Saguna atau Sakara Brahman (personal god). Visualisasinyapun dapat:
- Tumbuhan/binatang (Unanthropomorphes): tumbuhan Soma, Ikan, Kura-kura, Babi Hutan, Garuda.
- Setengah manusia-binatang (semi-antropomorphes): Hayagrva yaitu manusia berkepala kuda , Narasimha yaitu manusia berkepala singa.
- Bentuk manusia dengan segala kelebihannya (anthro-pomorphes) seperti Vamana, Sri Raama, Kresna, Bhagawan Sri Sathya Narayana.
- Antaraatmanama; Tuhan meresapi segalanya dalam bentuk atma atau zat ketuhanan. Segalanya adalah Brahman (monisme).
- Archananaama; Tuhan yang terwujudkan dalam bentuk archa atau pertima (replika mini) seperti patung dalam berbagai bahan dan wujud.
Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa ketuhanan dalam agama Hindu adalah perpaduan dari monoteisme transenden, monoteisme imanen, dan monisme. Sekali lagi, ditegaskan dalam agama Hindu apapun wujud dan rupanya Tuhan diyakini hanya satu (esa). Keesaan Tuhan atau Brahma itu dibuktikan dalam berbagai mantra-mantra (ayat-ayat, red) dalam Veda seperti pada Rg. Veda I.64.46 yang berbunyi:
“Mereka menyebutnya dengan Indra, Mitra, Varuna, dan Agni
Beliau yang bersayap keemasan Garutman
Beliau Esa orang bijaksana menyebutNya banyak
Nama: Indra, Yama, Marisvan
Mantra di atas juga sama disebutkan dalam Bhagavadgita XI.39 dan juga dalam Savastava. 3 yang menyebutkan bahwa Tuhan itu disebut dengan berbagai nama, walaupun sesungguhnya Brahman itu Esa.
Brahman menurut Veda juga tidak berjenis kelamin dan berusia. Dengan kata lain jenis kelamin dan usia segalanya ada pada diri Tuhan (Artharvaveda.X.8.27: Rgveda VIII.58.2). Hal tersebut logis menurut Vedanta, karena Tuhan adalah segalanya dalam kaitannya konsep monisme. Dengan begitu Tuhan menurut Veda adalah seorang Anak, seorang Ibu, Bapa, Nenek, Datuk, Kekasih dan sekaligus adalah gabungan itu semua, atau bukan semua hal seperti itu.
[Z87]*Semoga*Berguna*[Z87]
Belajar Wewaran Bali
BELAJAR WEWARAN BALI
Habis ulangan tentang wewaran capek muter-muter otaknya. Itu terjadi karena saya tidak hafal kunci pokoknya yaitu wuku, wewaran dan rumusnya sehingga saya pun terpaksa R dan dari situ sya kepikiran untuk ngeblog sambil menghafal wuku, wewaran dan rumusnya. Untuk dapat pahan dengan materi ini pertama tentunya kita harus mengenal serta hafal dengan wuku yang jumlahnya 30. Berikut daftar 30 wuku tsb :Sinta
- Landep
- Ukir
- Kulantir
- Tolu
- Gumbreg
- Wariga
- Warigadean
- Julungwangi
- Sungsang
- Dungulan
- Kuningan
- 13.Langkir
- 14. Medangsia
- 15. Pujut
- 16. Pahang
- 17. Krulut
- 18. Mrakih
- 19. Tambir
- 20. Medangkungan
- 21. Matal
- 22. Uye
- 23. Menail
- 24. Prangbakat
- 25. Bala
- 26. Ugu
- 27. Wayang
- 28. Klau
- 29. Dukut
- 30. Watugunung
Cara cepat menghafalnya versi sya adalah dengan menghafal per 10 wuku sehingga kita bisa menghafal 3 kelompok wuku.
Dengan menggunakan 5 jari tangan kita, kita dapat menentukan Buda Kliwon, Tumpek, Buda Wage/Cemeng, Anggara Kasih, Kosong. Dimana bagiang-bagian jari yang mewakili rahinan tsb adalah sbb :
Kita gunakan tangan kiri
Ibu jari = Buda kliwon (Sinta, Gumbreg, Dungulan, Pahang, Matal, Ugu)
Telunjuk = Tumpek (Landep, Wariga, Kuningan, Krulut, Uye, Wayang)
Jari tengah = Buda wage/cemeng (Ukir, Warigadean, Langkir, Mrakih, Menail, Klau)
Jari manis = Anggara kasih (Kulantir, Julungwangi, Medangsia, Tambir, Prangbakat, Dukut)
Jari kelingking = Kosong ( tidak ada rahinan) (Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung)
Nah habis berkutat dengan wuku kita sekarang menuju wewaran. Berikut daftar wewarannya :
1. Eka Wara = Luang
2. Dwi Wara = Menge, pepet
3. Tri Wara = Pasah, beteng, kajeng
4. Catur Wara = Sri, laba, jaya, menala
5. Panca Wara = Umanis, paing, pon, wage, kliwon
6. Sad Wara = Tungleh, ariang, urukung, paniron, was, maulu
7. Sapta Wara = Radite, soma, anggara, buda, whraspati, sukra, saniscara
8. Asta Wara = Sri, indra, guru, yama, rudra, brahma, kala, uma
9. Sanga Wara = Dangu, dangur, gigis, nohan, ogan, erangan, urungan, tulus,dadi
10. Dasa Wara = Pandita, pati, suka, duka, sri, manu, manusa, raja, dewa raksasa
Nah, selain itu dalam mencari wewaran diperlukan juga urip dari Panca wara serta Sapta wara+nomor urut Sapta wara. Berikut ini daftarnya :
1. Urip Panca wara :
-Umanis = 5
-Pahing = 9
-Pon = 7
-Wage = 4
Kliwon = 8
2. Urip Sapta wara :
-Radite = 5
-Soma = 4
-Anggara = 3
- Buda = 7
-Whraspati = 8
-Sukra = 6
-Saniscara = 9
Dari sekian banyak daftar itu kalian sudah hafal bukan...??? Harus hafal..lho!! ^;^, sekarang kita bisa langsung ke rumus à Cekidot>..<
1. Rumus mencari Eka wara
Urip panca wara + Urip sapta wara = Jika hasilnya genap maka eka waranya kosong jika ganjil maka ekawaranya luang.
2. Rumus mencari Dwi wara
Urip panca wara + Urip sapta wara = Jika hasilnya genap maka Dwi waranya menge apabila ganjil dwo waranya pepet.
3. Rumus mencari Tri sampai Sanga Wara
(No urut wuku X 7) + No urut Sapta Wara/n = a,b (hasil)
Ket :
n = Bilangan 3-9 ( 3 digunakan apabila mencari Tri wara, 4 digunakan apabila mencari Catur wara dst. Jadi satu rumus ini digunakan untuk mencari 7 wewaran hanya diganti penyebutnya saja sesuai wewaran yang dicari).
a,b = a merupakan bilangan hasil bagi utama dan b merupakan sisa dari hasil pembagiannya tersebut. Disini yang digunakan untuk menentukan wewarannya ialah b, kita mencari urutan wewaran sesuai nilai b.
Apabila belum paham entar sya kasi contohnya... sbar ya..!!! Mending baca dulu sampai habis.
Perkecualian : Untuk mencari Catur wara dan Asta wara apabila nomor urut wukunya 1-10 digunakan rumus yang sedikit berbeda, yaitu sebagai berikut :
(No urut wuku X 7) + no urut sapta wara + 2/4 atau 8 = a,b (hasil)
Perbedaan sudah terlihat bukan?? Ya, hanya ditambah 2 saja, itu bedanya.
4. Rumus mencari Dasa wara
Urip Panca wara + urip Sapta wara + 1/10 = a,b
Materi Kepemimpinan
BAB II
KEPEMIMPINAN (Nitisastra)
1. Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas atau tindakan untuk mempengaruhi serta menggiatkan dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan (George Terry, dalam bukunya Principles Of Management).
2. Konsep Kepemimpinan Hindu menurut Nitisastra
A. Catur Kotamaning Nrpti
Catur Kotamaning Nrpti adalah empat sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin atau Swamin (raja). Berikut ini adalah bagian-bagiannya:
1) Jnana wisesa sudha, artinya seorang pemimpin harus memiliki ilmu pengetahuan yang luhur dan suci.
2) Kaprahitaning praja, artinya seorang pemimpin harus memiliki rasa welas asih kepada rakyatnya.
3) Kawiryan, artinya seorang pemimpin harus berwatak pemberani dan pantang menyerah.
4) Wibawa, artinya seorang pemimpin harus berwibawa terhadap bawahann dan rakyatnya.
B. Tri Upaya Sandhi
Tri Upaya Sandhi adalah tiga upaya swamin untuk menghubungkan atau mendekatkan dirinya dengan rakyatnya. Berikut adalah ketiga bagian dari Tri Upaya Sandhi:
1) Rupa, artinya swamin harus pintar membaca gambaran wajah rakyatnya supaya tahu keadaan bathin daripada rakyatnya tersebut.
2) Wangsa, artinya seorang pemimpin harus tahu susunan masyarakat (stratifikasi sosial) yang dipimpinnya.
3) Guna, artinya swamin harus tahu tingkat pendidikan, pengetahuan serta keahlian yang dimiliki rakyatnya.
C. Asta Brata
Asta Brata adalah delapan sifat kepemimpinan yang harus diterapkan oleh seorang pemimpin dalam kepemimpinannya. Berikut adalah bagian-bagian dari Asta Brata:
1) Indra Brata, artinya pemimpin harus seperti Dewa Indra, yaitu berusaha menciptakan rasa subur dan makmur dalam proses kehidupan.
2) Yama Brata, artinya pemimpin harus seperti Dewa Yama, yaitu menegakkan supremasi hukum, dengan bertindak adil seadil-adilnya.
3) Surya Brata, artinya pemimpin seperti Dewa Surya, yaitu memberikan penerangan kepada rakyat secara menyeluruh dan merata.
4) Candra Brata, artinya pemimpin harus seperti Dewa Candra, yaitu lembut dan menyejukkan rakyat, sehingga merasa aman dan terlindungi dalm proses kehidupan.
5) Bayu Nila Brata, artinya pemimpin harus seperti Dewa Bayu, yaitu masuk kesela-sela rakyat yang terbawah sehingga tersentuh hatinya. Tidak membedakan ras/marganya.
6) Kuwera Brata, pemimpin harus seperti Dewa Kuwera, yaitu adil dalam memberikan bantuan tanpa ada perbedaan.
7) Baruna Brata, artinya pemimpin harus seperti Dewa Baruna, yaitu memberikan keamanan dan pendidikan secara merata.
8) Agni Brata, artinya pemimpin harus seperti Dewa Agni, yaitu bersifat kesatria dalam mengatasi bentuk permasalahan.
D. Sad Upaya Guna
Sad Upaya Guna adalah enam sifat bersahabat yang harus dimiliki seorang swamin. Berikut bagian-bagiannya:
1) Siddhi, artinya kemampuan mengadakan sahabat.
2) Stana, artinya dapat menjaga hubungan dan perdamaian dengan baik dan memprioritaskan tentaranya untuk menjaga kedaulatan negara dan menjaga perdamaian serta menghindari peperangan.
3) Wigrha, artinya kemampuan untuk memisahkan setiap permasalahan atau persoalan serta dapat mempertahankan hubungan baik.
4) Wibawa, artinya memiliki wibawa.
5) Winarya, artinya cakap memimpin.
6) Gascarya, artinya berkemampuan untuk menghadapi lawan yang kuat.
E. Lontar Raja Pati Gondala
Disini disebutkan sepuluh macam hal yang patut dijadikan sahabat oleh seorang pemimpin atau swamin, berikut ini bagiannya:
1) Satya, artinya kejujuran.
2) Arya, artinya orang besar.
3) Dharma, artinya kebajikan.
4) Asurya, artinya orang yang dapat mengalahkan musuh.
5) Mantri, artinya orang yang dapat mengalahkan kesusahan.
6) Salyatawan, artinya orang yng banyak sahabatnya.
7) Bali, artinya orang yang kuat dan sakti.
8) Kaparamarthan, artinya kerohanian.
9) Kadiran, artinya orang yang tetap pendirian.
10) Guna, artinya orang yang banyak ilmu dan pandai.
3. Tipe-tipe Kepemimpinan
A. Tipe Kharismatis, yaitu tipe pemimpinyang memiliki kekuatan energi, daya tarik dan perbawa yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat banyak jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Yang termasuk tokoh prmimpin kharismatis ialah Jengis, Khan, Hitler, Gandhi, John F. Kennedy, Ir. Soekarno, Margarete Tatcher, Gorbachev dan yang lainnya.
B. Tipe Paternalistis, yaitu tipe kepemimpinan yang bersifat kebapakan. Begitu juga dengan tipe maternalistis tipe kepemimpinan yang bersifat keibuan yang ditandai dengan sikap over protective serta kasih sayang yang berlebihan.
C. Tipe Militeristis, yaitu tipe kepemimpinan yang bersifat kemiliter-militeran. Namun hanya gaya luarnya saja seperti militer. Tetapi jika dilihat lebih seksama, tipe ini mirip dengan tipe otoriter.
D. Tipe Otokratis, yaitu tipe pemimpin yang egois atau pemimpin yang selalu ingin berkuasa. Dalam pembuatan suatu keputusan tanpa meminta pertimbangan dari bawahan langsung memutuskan sendiri.
E. Tipe Laissez Faire, yaitu pemimpin yang tidak melakukan tugasnya sebagai pemimpin. Seorang pemimpin hanya sebagai simbul, segala tindakan bebas dilakukan oleh bawahan serta rakyatnya dengan resiko ditanggung sendiri.
F. Tipe Populistis, yaitu tipe kepemimpinan yang berpegang teguh terhadap nilai-nilai masyarakat tradisional serta mampu membangun solidaritas rakyatnya. Tipe ini sangat menonjolkan akan kecintaannya terhadap bangsa dan negara sendiri.
G. Tipe Administratif dan Eksekutif, yaitu tipe kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administratif secara efektif.
H. Tipe Demokrasi, yaitu tipe kepemimpinan yang berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terjadi kerjasama yang baik antara seluruh komponen pemerintahan dan masyarakat dengan rasa tanggung jawab yang besar pada masing-masing individu.
4. Pemimpin Ideal
A. Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang universal, yakni para pemimpin yang mampu memahami dan menerapkan ajaran Asta Brata, Panca Upaya Sandhi, Nawa Natya, Tri Upaya Sandhi, Catur Kotamaning Nrpti, Panca Dasa Paramiteng Prabhu, Sad Upaya Guna dan ajaran lainnya sebagaimana terdapat dalam kitab weda.
B. Kepemimpinan yang kondisional, yaitu pemimpin yang memiliki kemampuan secara teknis untuk menerapkan pola-pola kepemimpinannya sesuai dengantempat, waktu dan keadaan “desa, kala dan patra” dari masyarakat yang dipimpinnya.
Otonan di Bali
OTONAN
B A B I
PENDAHULUAN.
Manusia yang beragama Hindu khususnya yang berasal dari keyakinan di Pulau Bali yang mana setiap perubahan hidupnya dalam dirinya dibuatkanlah upacara dengan upakara-upakara sesuai dengan tahapan hidupnya seperti : Bayi dalam kandungan,bayi baru lahir, bayi kepus puser, bayi yang berumur 12 hari yang disebut upacara lepas hawon, upacara tutug kambuhan,upacara tiga bulan atau disebut nyambutin, bayi yang berumur 210 hari disebut upacara oton, bayi tumbuh gigi dibuat upacara ngepugin, upacara makupak, upacara ngraja, upacara metatah,upacara mawinten, upacara pawiwahan
Melihat dari upacara-upacara tersebut diatas proses satu putaran hidup menjadi manusia banyak sekali dibuatkan upacara Manusa Yadnya. Yang pada pokoknya jenis upacara Manusa Yadnya debedakan menjadi dua bagian acara yaitu :
a. upacara praenatal (sebelum lahir),
b. upacara post natal (setelah lahir).
Dari sekian macam jenis upacara manusa Yadnya akan dibahas salah satu yaitu “Otonan” dengan pembahasan :
1. Tujuan upacara Otonan.
2. Upakara-upakara yang digunakan pada saat Maotonan.
3. Proses pelaksanaan upacara.
Dari pokok bahasan tersebut di atas akan dicoba diuraikan daftar pustaka pula berdasarkan pengamatan tradisional di Bali. Yang berdasarkan budaya Bali.
B A B. II
PEMBAHASAN
1. Tujuan Upacara Otonan.
Setelah anak berumur 210 hari atau enam bulan, dibuat upacara satu oton sering juga disebut weton. Kata ini berasal dari kata “Wetuan”, yang mana wetu berarti lahir kata wetu ditambah an menjadi wetuan (weton) artinya kelahiran sering juga disebut wedalan. Kata wedalan berasal dari kata wedal yang berarti lahir. Kata ini sama artinya dengan medal.
Tujuan upacara oton ini adalah untuk memperingati hari kelahiran seseorang atau sesuatu. Dasar untuk menentukan hari lahir ini adalah pertemuan saptawara dengan pancawara, dan wuku. Misalnya Hari Buda Kliwon Sinta, kemudian lagi enambulannya (210 hari jumpa lagi dengan hari yang sama, maka desebut satu oton sebagai hari lahir seseorang. Jadi itulah yang dipakai pedoman dalam memperingati otonan seseorang Bagi umat Hindu, akan sangat baik bila otonan ini dirayakan berkelanjutan bahkan sampai akhir ayat.
Juga tujuan dari upacara ini adalah untuk memohon perlindungan, keselamatan dan pensucian dari Hyuang Widhi Wasa dengan berbagai manifestasi-Nya. Upacara ini sekaligus merupakan acara inisiasi, oleh karena acara ini diikuti dengan acara turun ketanah.
2. Upakara-upakara yang digunakan pada saat Maotonan
2.1. Tingkat Bebangkit ditambah Pengempugan terbagi atas beberapa bagian upakara yaitu :
a. Banten ayaban tingkat Bebangkit.
b. Banten di Surya.
c. Banten turun tanah berisi geti-geti.
d. Banten Megunting.
e. Banten Ari-ari
f. Banten pada Kumara.
2.2. Satu soroh ayaban Bebangkit
a. Dua soroh suci
b. Dua soroh tempeh masrobong
3. Proses Pelaksanaan upacara.
a. Banten Panglukatan
Ida Pedanda melakukan pemujaan, dan nglukat upakara dan yang diupacarai ( yang di oton ).
b.Nyambutin
Anak yang di oton ditutup oleh “Keranjang” sangkar Ayam yang didalamnya ada tempayan yang berisi air, berisi belut, udang, (suluruh ikan yang didapat pada isi sungai), juga tempayan yang berisi air tersebut diisi bermacam-mcam perhiasan seperti gelang, cincin, kalong, Batu gulitan, perak, uang kepeng dua ratus (satak) anak yang di otoni “diabin” dipangku oleh seorang anak yang belum ketus giginya, dan apabila yang diotoni (diupacarai) laki-laki hendaknya yang memangku lanak laki-laki. Dan apabila yang diupacarai perempuan dipangku oleh seorang anak perempuan, juga anak perempuan yang memangku itu belum ketus giginya. Anak yang diupacarai maoton mengambil ikan yang ada pada tempayan tersebut, pula perhiasan yang ada pada tempayan. Dan pada rangkaian upacara otonan dilengkapi dengan ayam patuun dan “Nyuh pakekeh” (Tanem tuwuh), apabila yang dioton laki-laki hendaknya ayam yang dipergunakan ayam pejantan dan ayam itu tidak boleh dipotong. Apabila yang dioton perempuan ayamnya juga betina juga tidak boleh dipotong, dan apabila sudah bertelur dan mempunyai anak telur dan anaknya baru bisa dipotong atau dipergunakan sebagai penyerta upacara. Terhadap “nyuh pakekeh” itu dipergunakan untuk pijer ditanam (tanem tuwuh), biar sampai besar), harapan sampai berbuah.
Setelah upacara penyambutan ditutup “ditangkeb dengan guwungan” dilanjutkan dengan pemotongan rambut oleh Ida Pendanda. Setelah selesai baru dilakukan persembahyangan dengan urutan :
4. Muspa puyung
5. Muspa ngangge Sekar keahadapan Hyang Siwa Raditya.
6. Kepada Kakawitan (sanggar rong tiga).
7. Muspa Ngangge kwangen ditujukan kepada Sanghyang Ibu pertiwi, nunas waranugrahan Ida.
8. Muspa puyung.
Setelah rangkain upacara pemuspaan dilanjutkan dengan metirta yang
diperciki oleh Ida Pendanda yang muput proses upacara otonan.
B A B. III
PENUTUP.
1. Kesipulan.
Dari uraian tersebut diatas upacara otonan menurut kepercayaan Agana Hindu di Bali khususnya adalah sangat penting mengapa karena Tujuan upacara oton ini adalah untuk memperingati hari kelahiran seseorang atau sesuatu. Dasar untuk menentukan hari lahir ini adalah pertemuan saptawara dengan pancawara, dan wuku. Misalnya Hari Buda Kliwon Sinta, kemudian lagi enambulannya (210 hari jumpa lagi dengan hari yang sama, maka desebut satu oton sebagai hari lahir seseorang. Jadi itulah yang dipakai pedoman dalam memperingati otonan seseorang Bagi umat Hindu, akan sangat baik bila otonan ini dirayakan berkelanjutan bahkan sampai akhir ayat.
Juga tujuan dari upacara ini adalah untuk memohon perlindungan, keselamatan dan pensucian dari Hyuang Widhi Wasa dengan berbagai manifestasi-Nya. Upacara ini sekaligus merupakan acara inisiasi, oleh karena acara ini diikuti dengan acara turun ketanah.
2. Saran-saran.
a. Dikarnakan pelaksanaan upacara otonan diberbagai desa dan Kabupaten sangat tergantung dari Desa, Kala , dan Patra perbedaan pelaksanaan dan upakara yang dipergunakan jangan diperdebatkan sampai menimbulkan percekcokan.
b. Kritik dan masukan yang didasari dengan ketulusan dan kejernihan pemikiran demi kesempurnaan tulisan ini guna untuk kepentingan Umat Hindu sangat diharpkan